MAKALAH
KOMUNIKASI KESEHATAN
KELAS
Komkes-3
KELOMPOK
HG 2
Disusun
Oleh:
Ana
Mardlianah, 1506669160
Anggun
Laellatul, 1506689811
Khaula
Nur Aliya, 1506690441
Nur
Azizah, 1506677130
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Kesehatan semester genap
Tahun Akademik 2015/2016
RUMPUN ILMU KESEHATAN
UNIVERISTAS INDONESIA
2016
ABSTRAK
Komunikasi
merupakan penyampaian informasi yang berisi ide, perasaan, perhatian, makna,
serta pikiran yang diberikan oleh pengirim kepada penerima melalui media
komunikasi dengan harapan si penerima
pesan menggunakan informasi tersebut untuk mengubah sikap dan perilakunya. Bentuk
komunikasi terdiri dari komunikasi verbal dan nonverbal. Dalam berkomunikasi
juga terdapat berbagai hambatan yang berasal dari pengirim, penerima dan
lingkungan sekitar maupun dari pesan itu sendiri. Komunikasi terdiri dari komunikasi
intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi
kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi massa, dan komunikasi intercultural.
Contoh penerapan komunikasi interpersonal yaitu penyampaian berita buruk kepada
pasien, komunikasi dengan pasien depresi, agresif, pasif, maupun geriatri yang
harus sangat memperhatikan teknik-teknik dalam berkomunikasi supaya komunikasi
tetap efektif.
Kata Kunci: Interpersonal, Komunikasi, Non Verbal, Verbal
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Dunia kesehatan, terutama dunia
kedokteran memang merupakan sebuah profesi yang menuntut interaksi dan
komunikasi yang tinggi di antara sivitasnya. Oleh karena itu, pengetahuan dan
pemahaman tentang komunikasi itu sendiri dan prinsip – prinsip yang terdapat di
dalamnya sangatlah diperlukan. Ilmu komunikasi sendiri adalah ilmu yang harus
dipahami esensinya, dan terus menerus dilatih sehingga dapat mencapai hasil yang
diinginkan. Dengan memaparkan satu persatu unsur – unsur yang ada dalam
komunikasi, pelaku komunikasi dapat melihat dengan lebih jelas lagi hal – hal
yang perlu diterapkan dan tidak perlu diterapkan saat berkomunikasi dengan
orang lain, oleh karena itu, penulis membuat makalah ini agar pihak – pihak
yang membacanya dapat mendapatkan manfaat.
1. Bagimana Konsep Dasar dan Prinsip Komunikasi?
2. Apa
yang dimaksud dengan Hambatan Komunikasi?
3. Bagaimana
sikap dan berperilaku dalam Komunikasi?
4. Apa
yang dimaksud dengan Komunikasi Interpersonal?
5. Bagaimana
komunikasi dalam Penyampaian Berita Buruk?
6. Bagaimana
berkomunikasi dengan pasien yang berkebutuhan khusus?
1. Mengetahui
Konsep Dasar dan Prinsip Komunikasi.
2. Mengetahui
tentang Hambatan Komunikasi.
3. Mengetahui
sikap dan berperilaku dalam Komunikasi.
4. Mengetahui
tentang Komunikasi Interpersonal.
5. Mengetahui
komunikasi dalam Penyampaian Berita Buruk.
6. Mengetahui
berkomunikasi dengan pasien yang berkebutuhan khusus.
BAB II
ISI
Komunikasi berasal dari
kata communicare yang artinya adalah berpartisipasi atau memberitahukan
atau communis yang artinya milik bersama atau berlaku dimana-mana.
Komunikasi mempunyai pengertian sebagai berikut:
a. Pertukaran
pikiran untuk menciptakan rasa saling mengerti dan percaya demi mewujudkan
hubungan baik antara seseorang dengan yang lain.
b. Pertukaran
fakta, gagasan, opini, atau emosi antar dua orang atau lebih.
c. Hubungan
yang dapat dilakukan melalui surat, kata-kata, symbol, atau pesan agar dapat
saling tukar-menukar arti dan pengertian terhadap sesuatu.
Komunikasi adalah proses
penyampaian dan penerimaan pesan dari seseorang yang dibagi kepada orang lain. Berkomunikasi berarti membantu
menyampaikan pesan untuk kemudian diketahui dan dipahami bersama. Pesan dalam
komunikasi digunakan untuk pengambilan keputusan.
Komunikasi
merupakan penyampaian informasi yang berisi ide, perasaan, perhatian, makna,
serta pikiran yang diberikan oleh pengirim informasi kepada penerima informasi
dengan harapan si penerima pesan menggunakan informasi tersebut untuk mengubah
sikap dan perilakunya. Komunikasi merupakan:
·
Proses sosialisasi, yaitu proses belajar
seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat
dalam lingkungannya.
·
Proses yang terjadi dalam satu dan/atau
dua arah.
·
Aktivitas yang bersifat persuasif dan
purposif, yaitu komunikasi merupakan salah satu usaha untuk membujuk
orang-orang dan memiliki tujuan.
·
Aktivitas yang bertujuan untuk mendorong
interpretasi atau pendapat individu.
·
Aktivitas pertukaran makna dan pikiran.
·
Aktivitas yang terjadi dalam ruang dan
waktu tertentu.
Proses
komunikasi merupakan aktivitas mendasar bagi manusia sebagai makhluk sosial.
Setiap proses komunikasi diawali dengan adanya stimulus pada diri seseorang
yang ditangkap melalui panca indra. Stimulus tersebut diolah di otak
berdasarkan pengetahuan, pengalaman, selera dan kepercayaan
yang dimiliki
setiap individu. Stimulus tersebut mengalami proses intelektual menjadi
informasi. Informasi yang telan dikomunikasikan disebut pesan. ( Wiryanto dalam
buku Pengantar Ilmu Komunikasi)
Bulletin
UNINDO, United Nations, New York
(1986) memuat artikel yang menyatakan bahwa : Thinking and Communication are
Information. Proses berpikir merupakan proses komunikasi yang kita kenal
sebagai proses komunikasi intrapersonal di dalam proses berpikir dan proses
komunikasi menghasilkan informasi. ( Wiryanto dalam buku Pengantar Ilmu
Komunikasi)
Komponen
dalam proses komunikasi ialah people,
messages, encoing and decoding, meaning, dan interpretation. Individu/ manusia yang terlibat dalam proses
komunikasi biasanya sebagai pengirim pesan atau penerima pesan. Komunikasi
berlangsung melalui pengirim dan peneima pesan. Pesan memiliki konten yang
disampaikan selama berkomunikasi. Konten dapat berupa informasi factual, atau
idea, hasil pemikiran ataupun ekspresi perasaan participant. ( Steinberg, 2006)
Komponen
selanjutnya ialah encoding dan decoding. Encoding merupakan proses transformasi
pikiran dan ide-ide atau pesan kedalam tanda-tanda verbal dan nonverbal.
Sedangkan decoding ialah proses mengubah tanda verbal dan nonverbal kembali ke
dalam bentuk pesan. Meaning, pesan memiliki dua jenis informasi, content
information dan relation information. Informasi konten mengacu pada informasi
factual tentangt topic pesan. Informasi relasi mengarah kepada bagaimana
participant memahami hubungan mereka. Interpretation, pesan yang memiliki
arti/maksud harus diinterpretasikan. Interpretasi bergantung pada pemahaman sosial dan
pemahaman individu. ( Steinberg, 2006)
Tujuan
komunikasi kesehatan menurut Alo Liliweri, dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan
strategis dan tujuan praktis.
1. Tujuan
strategis merupakan fungsi dari program yang dirancang dalam bentuk paket acara
atau paket modul. Fungsinya adalah:
a.
Relay
information. Sumber yang diperoleh kemudian
diteruskan ke pihak lain secara berantai.
b.
Enable
informed decision making. Informasi yang diperoleh
memungkinkan untuk pengambilan keputusan.
c.
Promote
healthy behavior. Informasi dapat digunakan untuk
mempromosikan perilaku kesehatan.
d.
Promote
peer information exchange. Mempromosikan pertukaran
informasi antarsesama.
e.
Promote
self-care. Mempromosikan kepedulian untuk diri sendiri.
f.
Manage
demand for health service. Mengatur permintaan akan layanan
kesehatan.
2. Tujuan
praktis menurut Taibi Kahler, digunakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia melalui pelatihan dan pendidikan, seperti berikut.
a.
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan
berkomunikasi efektif. Contohnya, praktis berbicara, berpidato, memimpin rapat,
berdialog, berdiskusi, bernegosiasi, menyelesaikan konflik, menulis, membaca,
wawancara, menjawab pertanyaan dan argumentasi.
b.
Membentuk sikap dan perilaku
berkomunikasi. Contohnya, berkomunikasi yang menyenangkan, berempati,
berkomunikasi dengan kepercayaan diri, berkomunikasi dengan membentuk
kepercayaan publik dan pemberdayaan publik, membuat pertukaran informasi atau
gagasan menjadi menyenangkan, dan memberikan apresiasi terhadap terbentuknya
komunikasi yang baik.
Komunikasi adalah kegiatan yang lekat dengan kehidupan
sehari-hari. Komunikasi menjadi faktor penentu keutuhan hubungan antar makhluk.
Komunikasi juga merupakan ketrampilan yang paling penting dalam hidup
seseorang. Seseorang menghabiskan sebagian besar jam disaat sadar dan bangun
untuk berkomunikasi. Diperlukan keahlian dalam berkomunikasi untuk mencapai
komunikasi efektif. Untuk mengembangkannya, setidaknya seseorang harus
menguasai empat jenis ketrampilan dasar dalam berkomuniasi, yaitu menulis,
membaca dan mendengar serta berbicara.
Esensi dari komunikasi adalah merengkuh atau meraih.
Sesungguhnya komunikasi untuk meraih perhatian, kasih sayang, minat,
kepeduliaan, simpati, tanggapan, dll. Adapun syarat- syarat komunikasi yang
efektif:
a.
Saling
menghormati
Syarat pertama dalam berkomunikasi
adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang anda
sampaikan. Sebab prinsip setiap manusia adalah ingin dihargai dan dianggap
penting.
b.
Empati
Empati adalah perhatian dan kasih
yang diwujudkan melalui tindakan. Empati juga merupakan kemampuan seseorang
untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain.
Salah satu syarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan untuk
mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengar atau dimengerti
oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan orang untuk dapat menyampaikan
pesan dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan menerimanya.
c.
Dapat
didengarkan (Audible)
Audible artinya dapt didengarkan
atau dimengerti dengan baik. Jika empati orang harus mendengarkan terlebih
dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible artinya
pesan yang disampaikan dapat diterima oleh penerima pesan.
d.
Kejelasan
(Clarity)
Selain pesan harus dapat dimengerti
denngan baik, hal penting lainnya adalahnkejelasan dari pesan itu sendiri sehingga
tidak menibulkan penafsiran yang berlainan.
e.
Rendah
Hati (Humble)
Sikap rendah hati adalah unsur yang
terkait dengan syarat saling menghargai. Sikap rendah hati adalah sikap yang
penuh melayani, menghargai mau mendengar dan mau menerima kritik, tidak sombong
dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, dll.
Untuk
membangun komunikasi yang efektif, berikut ini ada hal- hal yang sebaiknya
diperhatikan:
a.
Kontak
mata
Untuk menjadi orang yang mampu
berkomunikasi efektif anda harus mampu menatap lawan bicara dan mengambil jeda
untuk memulai sebuah pembicaraan. Ini merupakan salah satu cara yang membantu
menciptakan kesan baik pada lawan bicara.
b. Ekspresi wajah
Wajah
merupakan cermin kepribadian individu. Ekspresi wajah pikiran yang sedangmelintas
pada diri seseorang.
c. Postur tubuh
Setiap
gerak gerik tubuh saat berbicara harus dikoordinasikan dengan kekuataan yang
mayakinkan orang.
1. Sumber.
Sumber
merupakan salah satu unsur dari komunikasi. Kegiatan komuikasi yang terjadi
antar manusia selalu melibatkan pembuat atau pengirim informasi. Sumber ini
dapat disampaikan oleh satu orang dan juga dapat disampaikan dalam bentuk
kelompok (contoh: partai, organisasi atau lembaga). Sumber juga sering disebut
dengan pengirim, komunikator, atau dengan kata lain source, sender dan encoder.
2. Pesan.
Unsur
kedua dalam komunikasi adalah pesan. Dalam proses komunikasi, pesan adalah
suatu hal berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda
yang disampaikan oleh pengirim kepada penerima baik secara tatap muka atau
langsung, maupun melalui media komunikasi lainnya (contoh: televisi, telepon,
koran). Pesan ini juga dapat disebut dengan content.
3.
Media (channel).
Unsur komunikasi berikutnya adalah media. Media
dalam proses komunikasi merupakan suatu alat yang digunakan untuk menyampaikan
sebuah pesan dari sumber kepada penerima. Bentuk dari media ini bermacam-macam:
·
Media antarpribadi, media ini berupa
kurir, surat, maupun telepon.
·
Media kelompok, ditujukan bagi kegiatan
komunikasi yang diikuti oleh lebih dari 15 orang. Medianya dapat berupa
rapat, seminar, dan konferensi.
·
Media publik, media ini digunakan apabila komunikasi terjadi lebih dari 200 orang
dan dilakukan dalam rapat akbar.
·
Media massa, merupakan salah satu contoh
penyampaian komunikasi secara tidak langsung. Karena dalam penyampaiannya,
media ini menggunakan perantara berupa alat seperti televisi, koran, dan radio.
Diantara bermacam-macam media yang digunakan dalam
proses komunikasi, media yang sangat penting dan dominan digunakan oleh manusia
adalah pancaindera seperti mata dan telinga.
4. Penerima.
Penerima merupakan pihak utama yang dijadikan
sasaran pengiriman pesan oleh narasumber. Oleh karena itu, penerima merupakan
salah satu elemen penting dalam proses komunikasi. Karena tanpa adanya penerima
pesan, seseoorang yang menyampaikan pesan tersebut tidak dapat dikatakan atau
disebut sebagai narasumber. Penerima dapat berjumlah satu orang atau lebih,
dalam bentuk kelompok, partai, maupun negara. Penerima dapat disebut juga
dengan receiver.
5. Pengaruh
(decoding).
Pengaruh merupakan perbedaan yang terjadi pada
penerima sebelum dan setelah menerima pesan. Perbedaan ini dapat berupa perbedaan
pola pemikiran, hal yang dilakukan, maupun hal yang dirasakan baik dalam
tingkah laku maupun pengetahuan. Oleh karena itu, pengaruh juga dapat diartikan
sebagai perubahan atau penguat keyakinan, tindakan, dan sikap seseorang setelah
menerima pesan.
6. Umpan
Balik (feedback).
Umpan balik merupakan salah satu pengaruh yang
berasal dari penerima. Dimana penerima menanggapi pesan yang telah diberikan
oleh narasumber. Bentuk dari umpan balik ini akan berbeda-beda tergantung pada
individu masing-masing penerima pesan, apakah penerima setuju dengan pesan
tersebut atau penerima memiliki pandangan lain akan suatu pesan yang telah
disampaikan.
7. Lingkungan.
Lingkungan merupakan unsur terakhir dalam proses
komunikasi. Faktor pada lingungan terbagi menjadi lingkungan psikologis, sosial
budaya, fisik dan dimensi waktu. Faktor-faktor ini merupakan salah satu faktor
penentu yang secara tidak langsung berpengaruh pada proses komunikasi.
8. Gangguan.
Salah satu faktor yang
menyebabkan terjadinya kesalahpahaman mengenai pesan yang disampaikan oleh
narasumber kepada penerima disebut dengan hambatan. Hambatan ini dapat berasal daripenyampaian
pesan yang kurang jelas, ataupun penerima yang tidak mendengarkan dengan baik.
Gangguan juga disebut dengan istilah noise,
dimana noise ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:
·
External noise, meliputi latar
belakang pembicaraan, lingkungan
sekitar, maupun saluran yang digunnakan.
·
Internal noise, meliputi aspek psikologi
maupun aspek semantik penerima. Dimana contoh dari internal noise ini adalah
suatu kata yang memiliki banyak arti/ambigu, ataupun penerima yang didalam
pemikirannya sedang memikirkan banyak masalah senhingga pesan tidak
tersampaikan dengan baik.
Komunikasi
berfungsi sebagai informasi, pendidikan, dan untuk mendidik. Komunikasi
merupakan media untuk mentransformasikan ilmu. Informasi yang diberikan dapat
berupa materi tertulis, penjelasan verbal di kelas, atau berupa praktik.
(Uripni dkk,2002)
Informasi
diartikan sebagai berita yang sifatnya umum, sedangkan informasi massa
merupakan aktivitas pokok komunikasi yang mencakup kategori pengawasan
lingkungan, tindakan kolerasi, transmisi warisan sosial, dan hiburan.
a.
Pengawasan lingkungan
Pengawasan
lingkungan menunjukan adanya kegiatan pengumpulkan dan distribusi informasi
mengenai kejadian yang berlangsung di lingkungan.
b.
Tindakan kolerasi
Tindakan
kolerasi meliputi kegiatan interpretasi informasi mengenai lingkungan untuk
berprilaku sebagai respon terhadap suatu peristiwa.
c.
Transmisi warisan sosial
Transmisi warisan
sosial berfokus pada komunikasi tentang pengetahuan, nilai, norma sosial dari
satu generasi ke generasi lain.
d.
Hiburan
Hiburan
berdasarkan aktivitas pokok kegiatannya adalah tindakan komunikatif yang
mempunyai tujuan untuk menghibur.
Pendidikan
merupakan sarana untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap
melalui komunikasi. Mendidik adalah upaya mengubah sikap dan perilaku negatif
dan positif, dari yang belum tahu menjadi tahu.
Dalam hal ini fungsi komunikasi menitikberatkan pada proses penyampaiannya.
(Uripni dkk,2002)
Ada berbagai faktor yang
memengaruhi kualitas komunikasi dan hubungan antara pasien dan tenaga
kesehatan, yaitu:
·
Faktor persamaan, seperti usia, jenis
kelamin, disabilitas, etnisitas, dan agama.
·
Faktor sosial, yaitu apakah antara
pasien dan tenaga kesehatan terjalin hubungan yang baik atau tidak.
·
Kemampuan dalam berkomunikasi, termasuk
kapasitas intelektual, bahasa, rasa empati, kemampuan dalam menangani emosi.
·
Berbagai pengalaman baik atau buruk
dalam pemberian atau penerimaan pelayanan kesehatan.
·
Kemampuan dalam berkomunikasi nonverbal,
seperti kontak mata, gerak tubuh, ekspresi wajah, nada suara, sentuhan,
kedekatan, serta tanda-tanda atau isyarat.
·
Fokus dan berkonsentrasi saat berkomunikasi.
·
Bersikap profesional.
·
Lingkungan yang mendukung dan nyaman,
misalnya tersedianya tempat duduk pada tempat pelayanan kesehatan, tidak ada
hal-hal yang sifatnya mengganggu.
Ada
12 prinsip komunikasi, yaitu :
1. Komunikasi
adalah suatu proses simbolik. Simbol atau lambang merupakan salah satu
kebutuhan manusia yang digunakan untuk menunjukkan maksud kepada orang lain.
2. Setiap
perilaku mempunyai potensi komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial, manusia
membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya dengan cara berkomunikasi.
Sulit bagi seseorang menghentikan komunikasi.
3. Komunikasi
memiliki dimensi isi dan dimensi hubungan. Dimensi isi yaitu makna/muatan/isi
yang ingin disampaikan kepada pihak lain. Dimensi hubungan adalah bagaimana
cara orang menyampaikan dimensi isi, seperti nada bicara, gerak tubuh.
4. Komunikasi
berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan. Komunikasi dapat terjadi
sekalipun orang tidak menginginkannya.
5. Komunikasi
terjadi dalam konteks ruang dan waktu. Topik bahasan tertentu lazim dibicarakan
pada tempat maupun waktu tertentu pula.
6. Komunikasi
melibatkan prediksi peserta komunikasi. Komunikasi memerlukan tata krama
berdasarkan lawan bicara, sehingga harus diprediksi sikap yang harus dilakukan.
7. Komunikasi
bersifat sistemik. Perpaduan antara sistem internal (segala yang dibawa dalam
berkomunikasi) dengan sistem eksternal (situasi lingkungan peserta komunikasi).
8. Semakin
mirip latar belakang, semakin efektif komunikasi. SARA menjadi penentu
keefektifan komunikasi.
9. Komunikasi
bersifat nonsekuensial. Komunikasi dapat bersifat dua arah sekaligus, contohnya
saat dokter berbicara dengan pasien dan pasien menanggapinya dengan anggukan.
10. Komunikasi
bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional. Komunikasi merupakan proses
yang berkesinambungan, dalam proses komunikasi, peserta komunikasi saling
bergantung dan saling memengaruhi.
11. Komunikasi
bersifat irreversibel. Pesan atau informasi yang telah tersampaikan tidak dapat
dikendalikan atau dihilangkan pengaruhnya oleh penyampai pesan.
12. Komunikasi
bukan panasea untuk menyelesaikan masalah. Komunikasi bukanlah obat untuk
menyelesaikan masalah. Perlu tindakan lebih lanjut untuk menyatakan manfaatnya.
Di era modern seperti sekarang ini banyak individu
yang tidak dapat berkomunikasi secara baik. Perbedaan sikap dan perilaku
seseorang yang mempengaruhinya sehingga dalam berkomunikasi hasil yang di dapat
tentunya berbeda beda. Dalam dunia kesehatan, seharusnya komunikasi dijalin
dengan baik, antara tenaga kesehatan haruslah saling berkomunikasi agar hasil
kerja yang di dapat akan maksimal. Untuk itu, pembelajaran komunikasi kesehatan
sangatlah diperlukan agar nantinya antara tenaga kesehatan dapat berkomunikasi
dengan baik.
Komunikasi
akan berjalan efektif jika antara penerima dan penyampai pesan saling memahami
satu sama lain. Menurut Rogers dan Kincaid (2004:19) “Komunikasi adalah suatu
proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran
informasi terhadap satu sama lain, yang pada gilirannya akan tiba kepada saling
pengertian”.Sikap dan berperilaku dalam komunikasi dapat dibagi
menjadi 2 yaitu verbal(Bahasa lisan dan tertulis) dan non verbal(isyarat,gerak,
dan ekspresi).
1.
Komunikasi Verbal
Komunikasi secara verbal yang dibagi menjadi 3 yaitu
agresif,pasif dan asertif.
a. Perilaku
agresif dalam berkomunikasi adalah mempertahankan sikap dan pendapat, tidak
memperdulikan orang lain, dan menginginkan hasil akhir sebagai pemenang dalam
komunikasi. Sikap dan berperilaku agresif mempunyai ciri seperti dalam
berkomunikasi terlalu dominan dalam menyuruh atau memerintah orang lain, kontak
mata cenderung tegas dan melotot, intonasi tinggi dalam berbicara.
b. Perilaku
pasif dalam berkomunikasi berlawanan dengan agresif, pasif adalah perilaku
menghindari konflik dengan lawan bicara, cenderung diam demi kelancaran
berkomunikasi, mengorbankan kepentingan pribadi yang bisa saja lebih penting
dari kepentingan komunikasi tersebut. Sikap pasif dalam berkomunikasi mempunyai
ciri seperti cenderung menyimpan keinginan dalam hati, tidak mampu menolak
permintaan orang lain, menghindari kontak mata dengan lawan bicara, intonasi
suara rendah hamper tidak terdengar.
c. Perilaku
asertif adalah perilaku yang seharusnya dimiliki setiap individu. Perilaku
asertif tidak mementingkan kepentingan sendiri tetapi mementingkan kepentingan
orang lain juga tidak semena mena menahan diri dari intervensi orang lain.
Perilaku asertif mempunyai ciri seperti membuat permintaan kepada orang lain
secara wajar tanpa memerintah, mampu menolak permintaan orang lain, kontak mata
wajar, serta intonasi suara yang sedang. Sikap seperti ini seharusnya dimiliki
setiap idividu, agar proses komunikasi dapat berjalan dengan baik.
2. Komunikasi
Non Verbal
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang
merupakan isyarat dan bukan berupa kata-kata. Penyampaian isyarat tersebut
dapat melewati indera lain seperti mata, alis, tangan, dagu, dll.Menurut Mark
L. Knapp (1972: 9-12), komunikasi non verbal memiliki lima fungsi.
a.
Fungsi repetisi, yaitu fungsi mengulang
pesan yang telah disampaikan oleh pesan verbal. Contohnya adalah saat
mengatakan “ya” lalu kepala mengangguk.
b.
Fungsi subtitusi, yaitu fungsi
menggantikan lambing-lambang verbal. Sebagai contoh, melambaikan tangan untuk
mengatakan “tidak”.
c.
Fungsi kontradiksi, yaitu menolak pesan
verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal. Contohnya adalah
saat seseorang mengatakan bagus terhadap baju yang dipakai temannya padahal
sebenarnya tidak, sambal memainkan handphone.
d.
Fungsi komplemen, yaitu fungsi yang
melengkapi dan memperkaya makna nonverbal. Sebagai contoh, seseorang
melambaikan tangan saat mengatakan “selamat jalan”.
e.
Fungsi aksentuasi, yaitu menegaskan
pesan verbal atau menggarisbawahinya. Sebagai contoh, melihat jam tangan
sebagai tanda waktu telah habis sehingga orang lain sadar bahwa waktu telah
habis.
Duncan
mengklasifikasikan non verbal menjadi enam jenis, yaitu kinesthetic atau gerak
tubuh, paralinguistic atau suara, proksemik atau penggunaan jarak dan ruangan
social, olfaksi atau penciuman, sensitivitas kulit, artifaktural seperti
pakaian dan kosmetik. Sedangan Leather membagi pesan non-verbal dalam tiga
kategori utama yang saling berhubungan yaitu pesan nonverbal visual yang
meliputi kinesik, proksemik, dan artifaktual, lalu pesan nonverbal auditif
yaitu paralinguistic, dan yang terakhir pesan nonverbal nonvisual dan
nonauditif yaitu sentuhan, penciuman, dan telepatik.
Hambatan dalam berkomunikasi seringkali
terjadi pada semua elemen atau unsur-unsur yang mendukungnya, termasuk faktor
lingkungan dimana komunikasi itu terjadi. Menurut Shannon dan Weaver (1949) gangguan dalam
berkomunikasi terjadi jika terdapat intervensi yang mengganggu salah satu
elemen komunikasi, sehingga proses komunikasi tidak dapat berlangsung secara
efektif. Hambatan dalam komunikasi dapat berupa :
1. Hambatan Fisik
Hambatan fisik adalah hambatan yang berupa gangguan
fisik, biasanya terjadi pada penderita tuna rungu,tuna wicara, atau tuna netra.
Dalam hal ini, komunikan dan komunikator harus memaksimalkan penggunaan panca
inderanya agar tidak terjadi miskomunikasi.Misalnya,seorang penderita tuna
rungu bisa menggunakan gerakan tangan dan gerakan mulut untuk berkomunikasi.
2. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis adalah hambatan yang berhubungan dengan psikis
manusia. Hambatan ini dibagi menjadi empat, yaitu:
a. Prasangka:
prasangka dalam komuniksai berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap orang
lain, adanya prasangka ini dapat menimbulkan hambatan dalam berkomunikasi.
b. Perbedaan
kepentingan atau interest: perbedaan ini dapat menyebabkan seseorang selektif
terhadap pesan yang diperhatikan.
c. Motivasi:
Motivasi melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam
diri manusia yang menyebabkan manusia melakukan sesuatu (why doing something).
Semakin sesuai sebuah isi pesan komuniksai massa dengan motivasi komunikan,
maka semakin besar pesan dapat diterima komunikan, dan sebaliknya. (Gerungan,
1983)
d. Stereotip
: memberikan label kepada seseorang mengenai watak orang tersebut berdasarkan
keterangan-keterangan yang kurang lengkap, bersifat negatif, dan subjektif.
3.
Hambatan Teknis
Hambatan teknis merupakan hambatan yang
disebabkan oleh lingkungan yang memberi dampak pencegahan terhadap kelancaran
proses komunikasi. Contohnya adalah saat kita berada di lingkungan yang berisik
atau bising, hal ini dapat menyebabkan orang tidak mendengar jelas perkataan
komunikator. Jadi sebagai komunikator kita harus memiliki kejelasan artikulasi
dan pengucapan, dan memilih tempat yang tepat untuk memulai suatu komunikasi.
4.
Hambatan Sosiologis
Masyarakat Indonesia terdiri dari
berbagai golongan dan lapisan dengan perbedaan yang banyak. Perbedaan tersebut
dapat berupa yang menimbulkan perbedaan dalam statu sosial, agama, ideologi,
tingkat pendidikan, dan sebagainya, yang kesemuanya dapat menjadi hambatan
sosioliogis.
5.
Hambatan Antropologis
Hambatan ini
terjadi karena perbedaan pada diri manusia seperti dalam postur, warna kulit,
dan kebudayaan. Perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh
pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi.
6. Hambatan
Bahasa
Bahasa yang
digunakan biasanya memberikan petunjuk tentang perasaan-perasaan dan motif yang
terselebung. Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila
pengirim pesan (sender) dan penerima
pesan (receiver) menggunakan bahasa
yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima
pesan.Faktor bahasa yang digunakan seseorang secara verbal maupun
nonverbal (bahasa tubuh) ikut berpengaruh dalam proses komunkasi antara lain;
perbedaan arti kata, penggunaan istilah atau bahasa tertentu, dan penggunaan
bahasa tubuh (nonverbal).
7.
Hambatan Persepsi
Persepsi
merupakan suatu proses internal yang memungkinkan kita memilih atau menilai
sesuatu dan proses tersebut dapat mempengaruhi pikiran atau pandangan kita
terhadap sesuatu. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Oleh karena
perbedaan persepsi inilah komunikasi efektif antar individu akan terhambat.
Perbedaan persepsi antara komunikator dan khalayak terhadap pesan yang
digunakan dalam berkomunikasi salah satu faktor yang menghambat komunikas.
8.
Hambatan Media
Media adalah alat atau
sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada
khalayak. Media komunikasi didefinisikan sebagai alat perantara yang sengaja
dipilih komunikator untuk menghantarkan pesannya kepada komunikan. Contoh
hambatan media antara lain; Saat menulis surat, tulisannya luntur tidak
terbaca, atau selaku komunikan yang menonton televisi, namun gambarnya rusak
tidak terlihat. Hal itu menunjukkan gangguan pada saluran atau media yang
digunakan.
Hambatan ditinjau dari komponennya dibagi menjadi :
1. Hambatan
yang berasal dari pengirim
Hambatan yang berasal
dari pengirim biasanya terjadi akibat adanya permasalah dari individu yang akan
menyampaikan pesan, seperti
:
a.
Kurang kepercayaan diri
Tidak
adanya percaya diri menimbulkan keraguan dan terkadang menyebabkan sesorang
menjadi kehilangan ide pesan yang ingin disampaikannya. Jika pemberi pesan ragu
dalam menyampaikan komunikasinya, maka si penerima informasi juga akan menjadi
lebih ragu lagi dalam menerima informasi tersebut.
b.
Tidak terampil menyampaikan pesan
Dalam
menyampaikan komunikasi sesorang harus pandai dalam menyampaikan pesannya.
Komunikator harus menyampaikan informasi secara logis, sistematis dan tidak
membingungkan. Komunikator juga harus pandai memilih kata-kata yang mudah
dipahami dalam berkomunikasi.
c. Komunikator
cenderung menyampaikan pesan untuk satu orang
Dalam
berkomunikasi dengan banyak orang, perlu diperhatikan bahwa komunikator tidak
boleh terlihat hanya meyampaikan pesan untuk satu orang. Hal ini bisa terlihat
dari gestur, tatapan mata dan bahasa tubuh komunikator
2. Hambatan
yang berasal dari penerima
Hambatan disini lebih kepada
hambatan dari penerimaan. Ada beberapa hambatan yang terjadi pada si penerima
pesan sehingga komunikasi tidak berjalan dengan lancar. Hambatan yang berasal
dari penerima dapat berupa :
a. Selective attention
Selective attention
merupakan fenomena di mana seseorang menempatkan perhatiannya bukan pada yang
seharusnya dia perhatikan saat itu. Hal ini karena biasanya seseorang hanya
menaruh perhatian atau mau mendengar apa yang disukainya atau dikehendakinya
saja.
b. Selective perception
Selective perception
merupakan tindakan sesorang yang cenderung selalu memandang masalah atau
informasi seperti pengalamannya. Seseorang cenderung menafsirkan sesuatu sesuai
dengan pengalaman pribadi yang mungkin pernah dihadapinya
c. Selective retention
Selective retention
maksudnya adalah bahwa komunikan tidak mengingat informasi yang telah diberikan
kepadanya, padahal sebenarnya ia telah mengerti dan memahami apa isi dari
informasi yang diberikan kepadanya. Pendengar cenderung mengingat apa yang
memang mereka inginkan untuk diingat, walaupun sebenarnya ia memahami isi pesan
yang diterimanya.
3. Hambatan
yang berasal dari pesan
Hambatan dalam berkomunikasi juga
dapat timbul dari informasi atau pesan yang ingin disampaikan. Dalam hal ini,
Hambatan tersebut dapat timbul dari faktor seperti :
a.
Isi pesan yang sangat kompleks
Jumlah pesan yang terlalu banyak dan membingungkan dapat menjadi hambatan
dalam komunikasi. Dalam menyampaikan komunikasi yang
kompleks, sebaiknya tidak dilakukan hanya dengan berbicara, tapi harus juga
disampaikan melalui penyampaian visual, seperti gambar atau rekaman.
b.
Isi pesan yang berisi berita duka atau
mengecewaka
Dalam
kasus ini, komunikator harus tetap menyampaikan informasi yang berisi berita
duka atau mengecewakan dengan penyampaian yang menunjukkan rasa empati. Sebab
pesan yang berisi berita duka merupakan informasi yang sensitif dan tidak mudah
untuk diterima oleh pendengar.
Komunikasi terdiri dari berbagai macam yakin
komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok,
komunikasi organisasi, komunikasi massa, dan komunikasi intercultural. Dalam hal ini akan dijelaskan mengenai komunikasi interpersonal
Dalam kehidupan
sehari-hari semua aspek tidak lepas dari komunikasi untuk memenuhi tujuannya.
Begitu pula dalam bidang kesehatan. Agar mendapatkan hasil yang maksimal
komunikasi harus dijalankan dengan baik.
Dalam buku
Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal karangan Agus M. Hardjana,
komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa
orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima
pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula. Sedangkan dalam buku
Health Communication karya Renata Schiavo, komunikasi interpersonal adalah
proses dimana informasi, makna, dan perasaan dibagikan oleh orang-orang melalui
pesan verbal dan non-verbal. Menurut R. Wayne Pace (1979), komunikasi antar
pribadi atau communication interpersonal merupakan proses komunikasi yang
berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka dimana engirim dapat
menyampaikan pesan secara langsung dan penerima pesan dapat menerima dan
menanggapi secara langsung.
Studi tentang
komunikasi interpersonal memiliki sejarah yang panjang. Seperti yang tercatat
oleh Hargie dan Dickson, esai tertua yang ditemukan (ditulis ekitar 3000 tahun
sebelum masehi) terdiri dari saran untuk berbicara secara efektif di depan publik.
Untuk
menyesuaikan dengan definisinya, agar komunikasi interpersonal dapat dilakukan perlu
ada beberapa hal yang harus ada, yaitu:
1. Adanya dua
orang atau lebih (contoh sumber dan penerima);
2. Pesan (konten
dari komunikasi);
3. Medium atau cara tertentu
untu menyampaikan pesan, dengan tiga tipe utama yaitu presentasional (contoh:
suara, tubuh), representasional (contoh: buku, foto), dan teknologikal (contoh:
televisi). Yang menjadi sumbu dalam komunikasi interpersonal adalah
presentasional;
4. Channel (contoh : yang menghubungkan komunikator dan
medium);
5. Kode (contoh: sistem
makna tertentu yang dimiliki oleh kelompok);
6. Timbal balik.
Setelah
syarat-syarat tersebut terpenuhi ada beberapa langkah yang harus dilalui agar komunikasi
interpersonal terjadi, yaitu:
1. Penentuan
waktu bicara;
2. Mendengarkan;
3. Berbicara
sesuai dengan konteks dan apa adanya.
a.
Pengertian Bad News
Berita buruk dianggap sebagai
konsep yang bersifat relatif sebab ia bergantung pada interpretasi dan reaksi
pasien terhadap informasi yang disampaikan. Sebuah berita buruk yang
disampaikan kepada pasien memiliki resiko untuk merubah cara pandang pasien
terhadap kehidupan mereka, yang kemudian akan memberi dampak kepada masa depan
mereka.
Menyampaikan berita buruk dapat menjadi sebuah hal
yang sulit bagi para dokter, terutama dokter yang masih berada pada fase awal
karier mereka. Hal yang dianggap paling sulit dalam proses
menyampaikan berita buruk adalah saat dokter menilai reaksi yang diberikan oleh
pasien. Dokter harus mengetahui sejauh mana pasien ingin mengetahui
informasi tersebut dan juga bagaimana ia ingin berita tersebut disampaikan.
Tapi hal inilah yang tidak diketahui dokter dan kemudian dianggap sebagai
penyebab sulitnya penyampaian berita buruk.
Menurut Ptacek dan Eberhardt,
kondisi psikis penyampai berita buruk dan penerima berita buruk dapat
digambarkan melalui grafik berikut:

Berdasarkan grafik tersebut
dijelaskan bahwa dokter mulai mengalami stress sebelum dimulai proses
penyampaian berita buruk dan mencapai puncaknya saat penyampaian berita buruk
itu terjadi. Sedangkan stress yang dialami oleh pasien dimulai saat proses penyampaian
berita buruk sedang berlangsung dan mencapai puncaknya setelah proses
penyampaian berita buruk berakhir.
b.
Pentingnya Berita Buruk bagi Pasien
Dahulu
penyampaian berita buruk disampaikan dengan menggunakan gaya paternalistic
yaitu konsep lama dalam penyampain berita buruk dengan tidak mengatakan seluruh
keadaan yang sebenarnya. Gaya ini masih umum dipraktikkan namun mengalami
perubahan besar dalam 30 tahun terakhir. Hal ini disebabkan berita buruk bagi
pasien merupakan hal yang penting karena:
1) Sebagian
pasien ingin mengetahui apa yang terjadi dan kemungkinan apa saja yang dapat
terjadi pada dirinya.
2) Berita
buruk tersebut merupakan hak otonomi seorang pasien.
3) Jika
tidak disampaikan, kepercayaan pasien akan berkurang terhadap tenaga kesehatan.
c. Langkah-langkah
untuk Menyampaikan Berita Buruk.
Terdapat
metode SPIKES untuk penyampaian berita buruk yang terdiri dari: Setting,
Patient’s Perception, Invitation,Knowledge, Empathy, Strategy/ Summarize.
1)
Setting
Dalam
pengaturan latar penyampaian berita buruk, terdapat beberapa hal yang harus
menjadi bahan pertimbangan, yaitu: privasi; kehadiran orang lain; duduk;
tempilan penuh perhatian dan tenang; mendengarkan secara aktif; hening
Dalam
langkah ini tenaga kesehatan juga mencari tahu sejauh mana pasien/keluarga
pasien mengetahui tentang kondisi pasien, contohnya dengan percakapan “Apa yang
sudah Ibu/Bapak ketahui tentang hal ini?”
2)
Invitation
Komunikator
wajib menanyakan sejauh mana informasi yang dikehendaki oleh pasien. Contohnya
dengan pecakapan “Seberapa jauh informasi yang ingin anda dengat dari saya
mengenai diagnosis dan perawatannya?’
3)
Knowledge
Dalam
tahap ini tenaga kesehatan membagi informasi berita buruh. Proses penyampaian
berita buruk ini, komunikator harus menggunakan bahasa yang sesuai dan menghindari
pembicaraan yang menggunakan istilah-istilah yang sukar dipahami.
4)
Emphaty
Tahap ini tenaga kesehatan mengidentifikasi emosi
dari pasien yang muncul, berikan pasien waktu untuk memproses berita buruknya,
jawab pertanyaan dengan sabar.
5) Strategy
and Summary
Membuat rencana atau tindak lanjut pengobatan dan
jelaskan kepada pasien, kemudian tawarkan kepada pasien mengenai kapan rencana
perawatan tersebut akan dilakukan sesuai persetujuan.
d. Kesalahan Umum dalam Penyampaian Berita Buruk
Kesalahan yang umum dilakukan dalan menyampaikan
berita buruk sebagai berikut:
1.
Menyampaikan di tempat yang tidak
menjamin privacy, seperti di lorong rumah sakt atau di depan pintu UGD.
2.
Penyampain berita terpotong karena suatu
hal, seperti menjawab telefon, perawat
yang meminta tanda tangan , dan lain-lain. Hal ini mungkn terjadi jika
tempat penyampain tidak kondusif atau tepat.
3.
Menyampaikan tidak secara langsung atau
menggunakan media seperti telepon. Hal ini harus dihindari karena situasi dan
kondisi klien tidak diketahui.
4.
Penjelasan berita terlalu rumit atau
tidak langsung pada inti pembicaraan.
5.
Efek iatrogenik, yaitu berita buruk yang
disampaikan memperburuk kondisi pasien baik secara fisik ataupun psikologis.
Hal penting yang harus diperhatikan dalam
menyampaikan berita buruk adalah mengenali klien atau mengetahui latar belakang
klien dan keluarganya, sebab dalam hal penerimaan berita buruk setiap klien
tidak akan memberikan reaksi yang sama sehingga kesalahan dapat dihindari.
Faktor-faktor yang mempengaruhi cara penerimaan klien terhadap berita buruk,
seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia, kematangan pribadi, faktor
sosial budaya, dan lain-lain.
Depresi
adalah suatu keadaan seseorang saat mengalami emosi yang tidak menyenangkan karena
suatu hal. Depresi merupakan suatu kondisi saat seseorang mengalami suatu masalah berlebih sehingga otak sulit
untuk menerima informasi (Berry,2007). Pasien depresif umumnya memiliki tekanan
dan beban yang berat yang menyababkan tidak terkontrolnya emosi. Keadaan
depresif pun dapat terjadi karena ketidaksiapan pasien untuk menerima hal baru.
Komunikasi yang berhasil, yaitu jika
terdapat umpan balik antara pengirim dan penerima pesan serta mendapatkan
pemahaman yang sama mengenai informasi yang diperbincangkan.Oleh karena itu,
seorang tenaga medis harus mampu untuk berkomunikasi dengan pasien depresif dan
membuat pasien tersebut mengerti serta paham mengenai topik pembicaraan. Tanda-tanda
dari pasien depresi menurut Floyd (2015) adalah sebagai berikut:
·
Tidak mampu
mengutarakan pendapat dan tidak berniat untuk melakukan pembicaraan
·
Merasa dirinya
sudah tidak berarti, tidak memiliki tujuan hidup, serta merasa putus asa dan
cenderung ingin bunuh diri
·
Gerakan tubuh
tidak menunjukkan semangat, ketidaksabaran saat duduk atau menulis
·
Menunjukkan
rasa malas, lelah, tidak memiliki nafsu makan, sukar tidur dan sering menangis
·
Berpikir secara
lamban, seolah-olah pikiran kosong, dan konsentrasi terganggu
·
Merasakan perasaan
bersalah yang mendalam, tidak masuk akal,
depersonalisasi dan halusinasi. Terkadang pasien menunjukkan sikap
bermusuhan dan mudah tersinggung
Hal-hal yang
dapat dilakukan kepada pasien khusus yang depresif, yaitu:
·
Memberikan
dukungan untuk mengatasi keputusasaan
·
Mempererat
kekerabatan dengan berinteraksi sesering mungkin dan berempati untuk membina
hubungan saling percaya
·
Membantunya
untuk beradaptasi dengan lingkungan dan bersosialisasi
·
Membantunya
untuk menjalani pola hidup sehat dan hidup teratur
·
Melakukan
Terapi Individual Konseling; membantu pasien mengenali dan mengekspresikan
perasaannya, mengembangkan kemampuan pasien beradaptasi terhadap masalah
(3R=Rekonsiliasi, Reintegrasi, Rekreasi), Terapi Kognitif & Perilaku (CBT);
mengembangkan pola pikir dan perilaku positif, menumbuhkan sikap optimis dan
percaya diri, Terapi Kelompok; bertujuan untuk meningkatkan keterampilan
sosial, mengembangkan sikap asertif, dan sebagai media untuk saling berbagi
cerita, serta Konseling Keluarga; bertujuan mengembangkan partisipasi keluarga
dalam proses terapi. Menurunkan faktor ekspresi emosi dalam keluarga.
Memperbaiki pola adaptasi keluarga dalam menghadapi perubahan perilaku pasien
·
Memberikan obat
antidepressant untuk memberikan ketenangan, menjelaskan kegunaan obat tersebut
dan penggunaannya, serta memantau dosisnya sesuai resep
·
Menghindari
kesan pertama yang buruk di depan pasien, seperti menyampaikan informasi secara
tidak terurut, menyalahkan pasien dalam keadaan depresif, dan tidak memberikan
informasi dengan jelas kepada pasien
Pasien yang pasif dapat membuat tenaga
kesehatan merasa kesulitan karena lebih menutup diri dan merasa sulit untuk
mengungkapkan sesuatu yang dirasakan/dialami. Hal ini akanmenyebabkan
terganggunya proses diagnosis dari pasien tersebut. Penyebab seorang pasien
pasif dapat dikategorikan dalam dua hal, yaitu karena sifat pasif tersebut
merupakan karakter natural/alami mereka atau karena pasif itu disebabkan olehfaktor
lainnya,seperti rasa sakit, tekanan, perasaan sedih mendalam, dan sebagainya
(Wiener, 1990).Oleh karena itu, tenaga kesehatan harus memiliki kemampuan
interpersonal yang baik untuk dapat berkomunikasi dengan pasien. Kemampuan
interpersonal tersebut meliputi keinginan untuk mengenal pasien bukan hanya
sebagai benda yang harus diobati, namun sebagai manusia yang memiliki perasaan
untuk dimengerti.
Ciri-ciri seorang pasien pasif
antara lain, yaitu bersifat menerima saja, mengikuti tuntutan dan kemauan orang
lain karena tidak ingin mengalami konflik, tidak berani menatap mata lawan
bicarasaat sedang berbicara, cenderung berbicara setelah lawan bicara selesai
berbicara, serta tidak mampu mempertahankan hak dan pribadinya. Untuk melakukan
komunikasi yang berhasil, tenaga kesehatan harus mampu menyesuaikan diri secara
cepat, tepat dan cermat pada kondisi khusus ini.Hal yang dapat dilakukan pada
pasien pasif diantaranya, yaitu:
·
Bertanya dan meminta
sertamemberi kesempatan kepada klien untuk menguraikan segala keluh kesahnya
·
Bertanya dengan
pertanyaan-pertanyaan terbuka kepada pasien
·
Menganjurkan pasien
untuk menguraikan persepsinya dan meneruskan pembicaraan
·
Menunjukkan
perilaku penerimaan informasi dari pasien secara mendukung dan fokus untuk mengklarifikasi
setiap informasi yang diberikan pasien
·
Memberikan
saran yang sesuai dengan informasi yang didapat dengan mengkonfirmasikannya
lagi kepada pasien
·
Menghindari berinteraksi
dengan agresif dan pasif
Komunikasi asertif merupakan komunikasi yang tepat dilakukan kepada
pasien pasief karena komunikasi tersebut lebih terbuka dan menghargai diri
sendiri serta orang lain. Saat melakukan komunikasi tersebut, tenaga kesehatan
harus lebih terbuka, jujur, memahami, dan mendengarkan pendapat diri dan orang
lain, mencari solusi dan keputusan bersama, dan menghargai diri sendiri dan
orang lain, serta mengatasi konflik. Sikap yang dilakukan dalam komunikasi dengan
pasien pasif, yaitu santai dan tidak kaku, badan tegak lurus, ekspresi dan
bahasa tubuh dapat terukur dan menyesuaikan kondisi, dan melihat langsung
dengan suasana santai.
Marah
merupakan suatu respon emosional yang diperlihatkan dari diri seseorang ke
orang lain karena merasa ada yang “salah” terhadap dirinya.30 Kemarahan adalah
suatu respons terhadap rasa takut, frustasi, kurangnyakontrol, dan/atau
kecemasan (Sheldon, 2010). Respon yang muncul dari pasien marah tentu memiliki
sebab tertentu, seperti adanya kabar buruk yang diberikan oleh professional
kesehatan ataupun karena kurangnya informasi yang diberikan oleh tenaga
kesehatan.Lloyd dan Bor (2009) menyarankan professional kesehatan untuk
melakukan hal-hal berikut:
·
Jaga jarak,
jangan menyentuh, jangan memotong pembicaraan, memahami kemarahannya, memberi
solusi, jika sudah berhenti marah segera ambil alih pembicaraan
·
Mengetahui
penyebab kemarahannya dan menunjukan kemauan untuk berbicara dan mendengarkan
pasien
·
Menanyakan
pertanyaan yang sifatnya terbuka
·
Tidak menganggu
atau mengancam pasien atau keluarganya dengan cara apapun
·
Tidak
menyetujui atau menjanjikan sesuatu yang tidak dapat ditepati
·
Membantu pasien
merasa bahwa mereka mempunyai berbagai pilihan
·
Jangan
membicarakan orang yang marah atau agresif tanpa sepengetahuan mereka karena
mereka dapat menganggapnya sebagai tindakan yang mengancam mereka
·
Coba untuk
tidak tersinggung atau terlibat terlalu dalam secara emosional
·
Menjaga jarak
yang aman jika pasien mulai menunjukan tanda-tanda agresif
·
Jika keadaan semakin
membahayakan, panggilah bantuan namun tetap awasi pasien jika sedang menghadapi
masalah dan pertahankan situasi jika memungkinkan
Pasien geriatri
merupakan individu yang berusia 60 tahun keatas dengan kondisi multipatologi
(memiliki beberapa masalah kesehatan) yang diakibatkan karena beberapa gangguan
fungsi dan mengalami kondisi sosial yang bermasalah.34Terdapat lima klasifikasi
menurut Maryam et al. (2008), yaitu pralansia (prasenilis), lansia, lansia
resiko tinggi, lansia potensial, dan lansia tidak potensial. Maksud dari
klasifikasi pralansia, yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
Sedangkan lansia, yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Kemudian
yang dimaksud lansia resiko tinggi, yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau
lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih yang memiliki masalah
kesehatan (Depkes RI, 2003 dalam Maryam et al., 2008). Lansia potensial, yaitu
lansia yang sanggup untuk melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat
menghasilkan barang/jasa, sedangkan lansia yang tidak potensial, yaitu lansia
yang tidak sanggup untuk mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada
bantuan dari orang lain (Depkes RI, 2003 dalam Maryam et al.,2008).
Selain klasifikasi tersebut, terdapat pula
karakteristik. Menurut Budi Anna Keliat (1999 dalam Maryam et al., 2008),
lansia memiliki karakteristik sebagai berikut. Pertama berusia lebih dari 60
tahun (sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) UU No. 13 tentang Kesehatan). Kedua,
yaitu kebutuhan dan masalah yang bervarisi dari rentang sehat sampai sakit,
dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta kondisi adaptif hingga
kondisi maladaptif. Ketiga, yaitu lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.
Selain itu, menurut Tamher dan
Noorkasiani (2009), karakteristik personal yang sering dijumpai pada
kalangan lansia dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori tertentu. Pertama,
persepsi mereka tentang pensiun (yang sedang dijalani) dan kedua, yaitu
perubahan peran lansia yang dapat diamati. Ciri-ciri pasien geriatrik adalah
sebagai berikut, antara lain:
·
Pasien Usia
Lanjut (lansia) yang berusia 60 tahun ke
atas
·
Lansia yang
menderita lebih dari 1 penyakit kronis atau degeneratif dengan/atau tanpa
disertai penyakit akut
·
Lansia yang
menghadapi kesulitan untuk berjalan, mengalami jatuh, atau imobilisasi
·
Lansia yang
menghadapi masalah untuk merawat diri sendiri, seperti kesulitan makan atau
berpakaian
·
Lansia yang
mengalami penurunan daya ingat dini atau gangguan tingkah laku dini
·
Lansia dengan
masalah kesehatan lain, seperti osteoporosis, penyakit parkinson, artritis,
gangguan berkemih (Inkontinensia urin), atau gangguan buang air besar
Hal-hal yang
dapat dilakukan ketika berkomunikasi dengan pasien geriatri, yaitu:
·
Menghormati dan
menghargai pasien tanpa memandang segala kelemahan dan keterbatasannya
·
Melibatkan
pasien dalam komunikasi tentang kondisinya dan asuhan perawatan yang akan
dijalaninya
·
Melakukan
evaluasi terhadap kapasitas komunikasi dan kognitif pasien
·
Menggunakan sentuhan
(untuk mendapatkan perhatian) bila perlu
·
Memberitahukan
dengan kalimat yang singkat dan mudah dipahami
Dari hasil pembahasan mengenai
komunikasi kesehatan, dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi merupakan
penyampaian informasi yang berisi ide, perasaan, perhatian, makna, serta
pikiran yang diberikan oleh pengirim informasi kepada penerima informasi dengan
harapan si penerima pesan menggunakan informasi tersebut untuk mengubah sikap
dan perilakunya. Komunikasi terdiri dari komunikasi verbal dan nonverbal.
Komunikasi verbal yang paling baik miliki setiap individu adalah sikap asertif
yaitu tidak menang sendiri dan tidak terlalu menahan diri terhadap intervensi
orang lain. Untuk mendapatkan komunikasi yang efektif harus memerhatikan
syarat-syarat dalam berkomunikasi antara lain saling menghormati, empati,
penyampaian jelas, dan rendah hati. Dalam kehidupan tidak mungkin akan
berkomunikasi dengan diri sendiri, tetapi juga perlu berkomunikasi dengan orang
lain, sehingga komunikasi terdiri dari komunikasi intrapersonal, komunikasi
interpersonal, komunikasi kelompok,
komunikasi organisasi, komunikasi massa, dan komunikasi interkultural.
Komunikasi yang dilakukan dengan juga pasti tidak akan selalu berjalan lancar,
terdapat berbagai hambatan yang mengharuskan pihak yang berkomunikasi
mengondisikannya. Hambatan dalam berkomunikasi dapat berasal dari pengirim
pesan, penerima pesan, lingkungan sekitar, maupun dari pesan itu sendiri.
Semoga hasil
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca baik di masa yang
sekarang maupun masa yang akan datang. Penulis
memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan
dalam makalah ini, karena penulis pun masih dalam tahap pembelajaran. Penulis
memohon kritik dan saran kepada pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Alo
Lilieri. 2007. Dasar-Dasar
Komunikasi Kesehatan.Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Arianto, A. 2013.
Komunikasi Kesehatan (Komunikasi Antara Dokter Dan Pasien)
Bensley, J., R., dan Brookins-Fisher, J.
(2009). Metode Pendidikan KesehataN Masyarakat. Jakarta: EGC
Berry, D. (2007). Health communication theory and practice.
England: McGraw Hill.
Berry, D. (2007).
Health Communication Theory and Practice. New York: Open University Press.
Berry,
Diane. 2007. Health Communication :
Theory and Practice. Berkshire: Open University Press.
Buckman RA.
Breaking Bad News- The S-P-I-K-E-S Strategy. Commun Oncol [internet]. 2005
[cited 2012 Sept 24]. Available from:
http://jco.imng.com/co/journal/articles/0202138.pdf
Cangara,
H. (2000). Pengantar ilmu komunikasi.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Cangara, H. (2004). Pengantar Ilmu
komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Cangara,
H. (2010). Pengantar Ilmu Komunikasi.
Jakarta: Reajawali Pers
Communication: Basic
Concepts. Tersedia dari: <http://old.nios.ac.in/secpsycour/unit-18.pdf>.
[20 Februari 2016].
Dr.Liliweri, A,
M.S.2007.Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: PT.LkiS Pelangi
Aksara
Factors Impacting on
Communication. Tersedia dari:
<http://www.nes.scot.nhs.uk/education-and-training/by-theme-initiative/communicating,-connecting,-caring/about-communication/factors-impacting-on-communication.aspx#nav>.
[20 Februari 2016].
Fakultas
Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret. (2012). Teknik Komunikasi. Diakses di http://fk.uns.ac.id/static/file/Gabungan_Manual_Smt_7-2012-ED.pdf
pada tanggal 18 Februari 2016.
Floyd, K. (2015). Interpersonal communication: The whole story,
1st edition.New York: McGraw-Hill.
Hardjana, Agus
M. 2003. Komunikasi Intrapersonal dan
Interpersonal. Yogyakarta. Kanisius.
http://blog.umy.ac.id/arumcreat/2012/11/14/komunikasi-efektif/
Liliweri,
A. (2007). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta:
LKIS
Lim IWM.
Breaking Bad News [internet]; cited on 2012 Sept 24. Available from: http://www.tcd.ie/tsmj/2005/8286breakingbadnews.pdf
Lloyd, M. dan Bor,R.(2009). Communication skills for medicine,
3rd edition. Churchill Livingstone.
Margaret
Lloyd. Robert Bor, foreword by Professor Sir David Weatherall. Communication Skill for Medicine 2nd
edition. Churchill Livingstone ;2004.
Maryam, R. S. et al. (2008). Mengenal usia lanjut dan perawatannya.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Root III, GN. Factors
of Effective Communication. Tersedia dari:
<http://smallbusiness.chron.com/factors-effective-communication-3183.html>.
[20 Februari 2016].Steinberg, S.(2006). Introdiction to Communication Course
Book 1 : The Basics.
Sarwono,
SW. (1982). Bimbingan Konseling dalam
Praktek Dokter. Jakarta: Penerbit N.V. Bulan Bintang
Schiavo, R. 2014,
Health Communication from Theory to Practice, 2nd edn. Jossey-Bass, San
Francisco.
Schiavo,
Renata. 2014. Health Communication : From
Theory to Practice. California: Josey-Bass.
Sendjaja
Djuarsa, Pradekso Tandiyo, Rahardjo Turnomo. Teori Komunikasi. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama. 2005
Sheldon, L. K. (2010). Komunikasi untuk keperawatan: Berbicara
dengan pasien, edisi 2. Terj.Stella Tinia. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sukardi,
E., dkk. 2007. Modul Komunikasi Pasien
Dokter. Jakarta : EGC
Uripni, Dra Chistina Lia, Untung
Sujianto, Dra Tatik Indrawati. (2002). Komunikasi Kebidanan.
Vardiansyah,
D. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi.
Bogor: Ghalia Indonesia
Wiener, J. M. (1990). Behavioral science: The national medical
series for independent study. USA: Harwell Publishing Company.
Wiryanto. (n.d.)
Pengantar Ilmu Komunikasi. Diakses tanggal 20 Februari 2015
Zoller,HeatherM.&Dutta,M.J,EmergingPerspectivesinHealthCommunication:Meaning,CultureandPower.
(London: Routledge, 2008), p. 3